#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Strategi Dua Striker Kembali Naik Daun di Liga Primer
27 May 2019 13:55 WIB
LONDON – Dalam tiga musim terakhir, perwajahan Liga Primer banyak berubah, terutama dari hal taktikal. Kehadiran banyak pelatih top dunia turut melatarbelakangi itu. Pada 2016/17, Antonio Conte mempopulerkan kembali pola tiga bek. Formula ini sukses berujung gelar bagi Chelsea FC. Sementara Josep Guardiola dan Juergen Klopp membawa sepakbola dominan, intens, dan agresif.

Dengan gaya dan metode tersebut, Manchester City FC serta Liverpool FC menjadi sulit dibendung pada 2018/19. Namun musim yang baru berlalu ini juga menjadi momentum munculnya tren lama yang sempat terlupakan, yakni penggunaan dua striker. Formasi itu sebelumnya sempat lama ditinggalkan setelah memplot satu ujung tombak menjadi strategi yang populer dan dianggap lebih efektif dalam satu dekade terakhir.

Tetapi sepanjang musim ini beberapa pelatih lebih berani melakukan variasi dalam strateginya. Tercatat, dalam 760 susunan starter 20 tim peserta dalam 380 laga, 220 di antaranya atau 29 persen menggunakan dua striker di lini depan. Skema 4-4-2 dan 4-2-2-2 adalah yang tersering digunakan. Pelatih Watford FC Javi Gracia menjadi yang paling konsisten menerapkannya.


Baca Juga :
- Susunan Pemain Arsenal vs Aston Villa
- Torreira Akan Dapat Tugas Baru di Arsenal

Ia tercatat memainkan dua striker dalam 36 laga. Periode awal musim, Gracia kerap menduetkan Troy Deeney dengan Andre Gray. Namun memasuki paruh kedua, sang pelatih memasangkan Deeney dengan Gerard Deulofeu. Selain Gracia, juru taktik seperti Sean Dyche (Burnley FC), Eddie Howe (AFC Bournemouth), dan Roy Hodgson (Crystal Palace FC) juga rutin menurunkan sepasang striker sekaligus.

Tren ini juga digunakan klub-klub papan atas. Dua tim asal London Utara, Tottenham Hotspur FC dan Arsenal FC merupakan yang cukup sering menerapkannya. Pelatih Spurs Mauricio Pochettino harus melakukan rotasi di lini depan karena padatnya jadwal dan problem cedera. Pria asal Argentina ini sempat mencoba menduetkan Harry Kane dengan Lucas Moura atau Son Heung Min.

Lalu, ketika Kane mengalami cedera, Pochettino beberapa kali memasang Heung Min bersama Fernando Llorente sebagai ujung tombak. Meski sejumlah klub mencoba strategi lama ini, tak ada yang lebih menarik daripada duo penyerang Arsenal, Pierre-Emerick Aubameyang dan Alexandre Lacazette. Dibanding sejawatnya, pelatih The Gunners Unai Emery terbilang telat menduetkan kedua pemain tersebut.   

Aubameyang dan Lacazette pertama kali diturunkan bersama sebagai duet di lini depan pada 8 Desember lalu. Ketika itu, Emery bereksperimen, mengganti taktik favoritnya 4-2-3-1 dengan 3-5-2. Percobaan tersebut meyakinkan sang pelatih bahwa kedua penyerangnya bisa tampil bersama. Emery melihat potensi besar jika Aubameyang serta Lacazette diplot sebagai poros serangan tim.   


Baca Juga :
- Arsenal Tak Bisa Hanya Mengandalkan Aubameyang
- Hasil Liga Europa Matchday Pertama, Jumat Dini Hari WIB

Faktanya, kedua pemain tersebut pun merasa nyaman dimainkan bersama. Hal ini terbukti dari produktivitas di lapangan. Sebagian gol Aubameyang berasal dari assist Lacazatte, begitu pula sebaliknya. Lalu apa rahasia keduanya bisa tampil kompak memimpin serangan The Gunners? “Kami punya pandangan sepak bola yang sama. Ini membuat semuanya berjalan natural di dalam lapangan,” kata Aubameyang.

Ia dan Lacazette dipastikan kembali berduet saat Arsenal bertemu Chelsea FC dalam final Liga Europa di Stadion Olympic, Baku, Azerbaijan Rabu (29/5) lusa. Bukan tidak mungkin pula Emery akan lebih rutin memainkan mereka bersama musim depan. Jika melihat tren musim lalu, ada peluang bila penggunaan dua striker bakal lebih sering terlihat di Liga Primer 2019/20 mendatang.***

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA