#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Karena Rekomendasi Doktor Fisika Teoretis, Liverpool Rekrut Salah dan Keita
27 Mei 2019 13:28 WIB
SEORANG analis data Liverpool FC yang sebelumnya bekerja untuk Tottenham Hotspur FC, tengah sibuk merencanakan kejatuhan bekas klubnya di final Liga Champions. Ian Graham, yang meraih gelar doktor dalam fisika teoretis di Cambridge, mengepalai tim data The Reds yang jarang disorot, namun kontribusinya sangat vital.

Artikel mendalam Bruce Schoenfeld untuk  New York Times  menyoroti pekerjaan tim yang mencakup ahli astrofisika Tim Waskett, bekas juara catur junior Dafydd Steele, dan ahli fisika energi Harvard, Will Stearman. Salah satunya kontribusi krusial mereka adalah merekomendasikan perekrutan Mohamed Salah dan Naby Keita.

Selama empat tahun, dari 2008 hingga 2012, Graham menjadi penasehat Spurs, tetapi pekerjaannya selalu diabaikan. Schoenfeld menulis: “Klub (Tottenham) itu dikelola oleh serangkaian pelatih yang tidak begitu tertarik dengan sarannya, yang mungkin berlaku untuk hampir semua pelatih sepakbola pada waktu itu.”


Baca Juga :
- Aneh! Liverpool Mau Jual Moh Salah, Harganya Rp 1,2 Triliun
- Alexander-Arnold dan Robertson Bisa Jadi Bumerang bagi Liverpool

Grup Fenway lalu membeli Liverpool dan mulai menerapkan budayanya. Termasuk merekrut Graham untuk membangun departemen penelitian. “Reaksinya, hampir sama, diabaikan! 'Laptop guys,' 'Tidak tahu permainan' - Anda akan mendengar itu sampai beberapa bulan lalu,” kata Barry Hunter, dari tim pencari bakat The Reds."

Faktanya, penelitian dan metode Graham membantu menunjukkan dengan tepat tipikal pemain yang dibutuhkan Liverpool. “Graham yang merekomendasikan untuk merekrut Mo Salah, yang saat itu sedang meroket di Serie A Italia,” ujar Schoenfeld.

“Data Graham pula yang menunjukkan bahwa Salah nantinya akan berpasangan dengan Roberto Firmino, penyerang Liverpool lainnya, yang menciptakan lebih banyak gol dari umpan-umpannya daripada hampir semua pemain pada posisi yang sama.”

Analisa itu sempat bermasalah. Pada musim berikutnya, 2017/18, Salah mengubah gol-gol yang diharapkan itu menjadi nyata “Ada anggapan bahwa dia (Salah) telah gagal di Chelsea,” kata Graham. “Menurut perhitungan saya, produktivitas Salah di Chelsea mirip dengan bagaimana dia bermain sebelum datang ke Inggris, dan setelah ke Italia.”

Yang menarik, Graham menolak untuk menonton video para pemain dalam analisisnya. "Saya tidak suka video," katanya. "Itu membuat Anda bias."

Temuan lainnya adalah Keita. Ia memperkuat klub RB Salzburg dari Austria lima tahun lalu ketika Graham memperhatikan data temuannya; itu tak seperti yang pernah dilihatnya.

“Pada saat itu, Keita adalah gelandang bertahan, diposisikan di depan pemain belakang Salzburg. Kadang-kadang, gelandang bertahan akan berevolusi menjadi gelandang tengah, lebih jauh ke depan. Keita melakukannya. Jarang sekali mereka muncul sebagai gelandang serang, yang perannya lebih banyak ofensif. Keita melakukan itu juga!”

Graham menghabiskan waktu berbulan-bulan membangun model yang menghitung peluang masing-masing tim untuk mencetak gol sebelum tindakan apa pun - umpan, tendangan yang gagal, tekel luncuran. Juga peluang yang didapat segera setelah itu.

Dengan menggunakan modelnya, Graham menghitung seberapa besar masing-masing pemain memengaruhi peluang timnya untuk menang. Tak dapat dipungkiri, beberapa pemain yang tampil paling unggul dalam statistik yang dikenalnya ada di urutan teratas dalam daftar Graham. Tetapi yang lain berakhir di bagian bawah.

“Rasio penyelesaian operan Keita cenderung lebih rendah daripada beberapa gelandang elit lainnya. Angka-angka Graham, bagaimanapun, menunjukkan bahwa Keita sering mencoba operan yang, jika tuntas, akan membawa bola ke rekan setimnya di posisi di mana ia memiliki yang lebih baik daripada rata-rata peluang mencetak gol.”


Baca Juga :
- Nilai Jual Meroket, Pemain Ini Menjadi Aset Paling Berharga Man. City
- Kehadiran Leroy Sane Bakal Memperkaya Bayern Muenchen

Jika para penggemar melihat Keita sebagai seorang gelandang serba bisa, yang dilihat Graham di laptopnya adalah sebuah fenomena. “Di sini ada seseorang yang bekerja untuk memindahkan bola ke posisi yang lebih menguntungkan, sesuatu yang bahkan mungkin tak disadari penonton yang penuh perhatian kecuali mereka mencarinya.”

Sejak 2016, Graham merekomendasikan pada Liverpool untuk mencoba mendapatkan pemain itu. Keita tiba di Liverpool terakhir musim panas.*NURUL IKA HIDAYATI

BERITA TERKAIT

Total Komentar 0
Tulis Komentar +
news
ARTIKEL SEBELUMNYA