#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
Revolusi Komunikasi, Telepon Selular & Atlet MMA Indonesia
30 May 2019 18:50 WIB
JAKARTA - Pada 24 Mei lalu diperingati sebagai peristiwa besar dalam revolusi komunikasi, dimana pesan telegraf pertama di dunia berhasil dikirim oleh Samuel F.B. Morse pada tahun 1844 dari Washington D.C. ke Baltimore.

Peristiwa tersebut menjadi titik awal revolusi cara dan kecepatan arus informasi dan komunikasi di dunia, dengan perkembangan teknologi yang memberikan kita kemampuan untuk mengirim data dalam berbagai format melalui telepon seluler atau ponsel.

Dua orang atlet mixed martial arts (MMA) asal Indonesia yang tergabung dalam ONE Championship berbagi kenangan tentang alat komunikasi yang mereka miliki, terutama pada era awal revolusi teknologi tanpa fitur canggih seperti kamera, layanan 3G atau berbagai media sosial.


Baca Juga :
- Sunoto Bertekad Menuai Sukses di Negeri Matahari Terbit Demi Keluarga
- Aung La N Sang Tak Gentar Hadapi Kebesaran Nama Brandon Vera

Rudy "The Golden Boy" Agustian, mengenang ponsel pertama yang ia miliki beberapa dekade lalu. “Ponsel pertama saya itu adalah handphone legenda, Nokia 3310. Saat saya SMU, masih sedikit banget teman-teman yang punya HP,” kata Rudy. “Memiliki Nokia 3310 waktu itu membuat saya merasa gagah dan ganteng.”

Petarung divisi flyweight yang berangkat dari disiplin Muay Thai ini merasakan masa remaja yang lebih meriah dengan kehadiran ponsel jaman dulu tersebut.

“[Pada] era itu, pengguna HP masih sangat langka. Nah, beberapa bulan setelah saya memiliki ponsel, Nokia mulai merilis berbagai seri ponsel yang lebih mahal dan canggih, serta memiliki kamera,” kata atlet yang tergabung dalam Golden Boy Muay Thai Camp ini.

“Kebetulah ponsel saya itu pemberian dari seorang kakak sepupu. Punya ponsel bikin kita merasa borju (bourgeoisie: kaum berada).”

"Saat itu, kalau mau melakukan pendekatan ke lawan jenis juga jadi lebih gampang berkat adanya HP,” kenangnya sambil tertawa. “Mendekati perempuan yang kita sukai itu ya hanya melalui layanan SMS (short messaging service). Mengetik pesan singkat atau sms itu rasanya ribet dan lama, mahal pula harganya.”

Rudy mengaku bahwa segala sesuatu masih terbatas pada saat itu. Pada awal era revolusi teknologi, satu pesan melalui ponsel dihargai sebesar Rp 350,- dan terbatas di 350 karakter.

“Hal ini Jelas berbeda banget dari komunikasi jaman sekarang," kenang atlet yang berlaga di ONE: FOR HONOR di Jakarta awal bulan Mei.

"Masa-masa dulu itu lucu dan bikin kangen juga sih, dimana fungsi ponsel benar-benar hanya untuk berkomunikasi dan bukan sarana media sosial seperti sekarang.”

“Kadang saya jadi rindu sama masa-masa old school, when a phone is just a phone. Jadi bikin kangen geng atau tongkrongan jaman dulu, dimana kami suka saling pinjam HP untuk berfoto," pungkasnya.

Rekan senegara Rudy, Anthony "The Archangel" Engelen, juga angkat bicara soal masa-masa penggunaan ponsel old school. Atlet yang akan bertanding dalam ajang ONE: LEGENDARY QUEST di Shanghai, Cin ini mengaku melewatkan beberapa era kemajuan teknologi komunikasi.

"Kalau tidak salah ingat, alat komunikasi pertama saya adalah telepon seluler dan saya melewatkan trend penggunaan pager pada jaman itu. Saya dan teman-teman sekelas sudah langsung menggunakan telepon seluler," ujar atlet divisi featherweight ONE ini.

"Kami semua menggunakan ponsel produk dari KPN, salah satu penyedia layanan seluler di Belanda. KPN meluncurkan ponsel Pocket Line dan saya memiliki seri Wave saat itu.”

“Periode itu kurang lebih bersamaan dengan rilisnya berbagai ponsel produksi SonyEricsson. Walaupun tua dan masih menggunakan antena, saya merasa sangat senang karena sudah dapat memiliki dan menggunakan handphone.”

Atlet yang berlatih di bawah Bali MMA ini juga mengenang pengalamannya memiliki beberapa nomor seluler yang dapat ia gunakan sebebas-bebasnya.


Baca Juga :
- Petarung MMA Indonesia Terapkan Demokrasi dalam Kehidupan Sehari-hari
- Atlet MMA Indonesia Peringati Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia

"Pada era itu, saya sudah merasa bangga sekali dengan paket langganan bulanan seluler yang memfasilitasi tarif khusus untuk 3 nomer seluler lainnya. Fasilitas tersebut memudahkan saya untuk menghubungi para anggota keluarga lain dengan tarif lebih murah,” kata Anthony.

“Saya tidak punya kenangan yang terlalu istimewa dengan ponsel old school ini. Saya bahkan juga kurang ingat apakah ponsel itu hilang atau saya dirampok – tapi yang jelas saya sudah tidak memilikinya lagi.”

BERITA TERKAIT

Penulis
Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA