#1
TOPSKOR   |   Harian Olahraga Pertama di Indonesia
So VAR Away...
04 Juni 2019 14:20 WIB
KEMENANGAN Liverpool di Liga Champions menjadi salah satu headline terbaik di tahun ini. Bagaimana tidak, mereka meraih kemenangan tepat dua hari sebelum merayakan hari ulang tahunnya ke-127. Tidak terlalu sering bisa merayakan hari jadi dengan trofi juara, kan?

Sebagai fans rasanya mulut saya masih ingin mengeluarkan sejuta pujian, tapi okelah saya menarik kisah sukses pasukan Juergen Klopp dari sisi pekerjaan saya saja. Ada dua hal yang menarik perhatian saya malam itu, yang kedua adalah pendekatan taktik Klopp.

Tak ada permainan agresif dengan garis pertahanan tinggi seperti yang ditunjukkan saat mengalahkan Barcelona di Anfield. Begitu unggul 1 gol, Liverpool bermain lebih dalam dan baru membuat tekanan intensif ke pemain Spurs di setengah lapangan sendiri.


Baca Juga :
- Agennya Terbang ke Italia, Liverpool Bisa Kehilangan Bek Tangguh Ini
- Akibat Barcelona Kalah dari Liverpool, Luis Suarez Malu Antar Anak Sekolah

Pilihan ini seakan-akan menghilangkan ciri khas The Reds walau sebenarnya tidak, memang transisi menyerang tak setajam biasanya tapi sering juga berujung tendangan sudut seperti yang terjadi jelang gol kedua. Terkesan pragmatis, namun ini juga merupakan kekayaan taktik. Klopp belajar bahwa di laga seberat ini, dia dan pemainnya harus bisa beradaptasi demi trofi. Masa dua kali final gagal terus, ya kan?

Baik tadi adalah hal kedua, sekarang hal pertama yang mencuri perhatian saya adalah penggunaan VAR. Gol pertama Liverpool dari titik penalti terjadi berkat andil review VAR, walaupun wasit telah memutuskan sejak awal. Maklum pelanggaran terjadi di depan matanya, sehingga melihat VAR hanyalah sekedar formalitas.

Kemudian ada dua kejadian dimana Son Heung-min tertangkap offside, hakim garis relatif cukup telat mengangkat bendera. Sepertinya mereka menunggu arahan dari wasit VAR sebelum memutuskan, karena hal itu terjadi pada dua hakim garis berbeda. Sementara pada kejadian offside yang lain, mereka cukup cepat bereaksi.

Dari contoh tiga peristiwa di atas setidaknya kita bisa melihat sedikit contoh bagaimana VAR bekerja. VAR mempengaruhi tidak saja permainan, namun juga kinerja wasit, itulah mengapa FIFA lebih berhati-hati untuk menerapkankannya. VAR tidak sekedar melihat gerakan lambat berulang-ulang, atau mendekatkan (zoom in) gambar.

Secara filosofi sistem VAR adalah wasit yang memiliki kemampuan lebih untuk menganalisis sebuah kejadian, dan kemudian membuat keputusan setepat mungkin. Jadi selain peralatan yang mumpuni maka juga harus memiliki prosedur yang tepat sebelum mengambil keputusan.

Seorang wasit VAR idealnya memiliki kemampuan yang sama untuk dengan wasit yang berada di lapangan, sehingga dia tidak sembarangan ketika memberi masukan melalui intercom.

Prosedur pengambilan keputusan juga harus terus dibenahi, siapakah yang kemudian menjadi penentu utama?

Sampai sekarang hal ini terus berkembang apakah wasit lapangan harus melihat sendiri ataukah cukup keputusan berada di tangan wasit di panel.

Maka bisa terlihat di final Liga Champions kemarin wasit tak perlu melihat layar, sementara jika di Italia wasit lapangan selalu melihat layar. Prosedur-prosedur menjadi bagian penting dari penggunaan teknologi VAR.

Hal lain yang juga menjadi catatan adalah kecepatan dari suatu peristiwa atau momen. Tentu saja wasit VAR punya keleluasaan waktu untuk membuat analisa karena dia bisa menurunkan kecepatan tayangan, untuk menangkap hal berbeda. Namun wasit lapangan tidak punya kemewahan seperti itu. 

Satu hal tak kalah penting dari sistem VAR yang saat ini lagi tren adalah evolusi. Faktanya walau sudah ada tayangan ulang di televisi, namun realisasi penggunaan VAR baru terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

Butuh evolusi panjang, mulai dari pelatihan wasit yang selalu berkembang, perubahan aturan yang dinamis, kemudian penambahan asisten wasit di belakang gawang hingga pemakaian Goal Line Technology. 

Hebatnya semua evolusi yang terjadi tidak mengubah prinsip dasar di sepakbola yaitu keputusan wasit adalah MUTLAK. Mengapa evolusi berjalan hati-hati? Supaya prinsip di atas tidak terganggu. Karena percuma saja jika mau dikasih layar monitor 100, tapi keputusan wasit tak bisa dihargai dan dipatuhi.

PSSI membuat keputusan yang memberi angin segar dengan ingin segera menggunakan sistem VAR. Namun untuk menghindari PHP, sebaiknya jangan buru-buru. Perbaiki dulu kualitas wasit, lha wasit berlisensi FIFA saja masih bisa dihitung dengan jari. Siapkan SDM terlebih dahulu, lakukan saja secara bertahap. Misalkan dengan penambahan asisten wasit sampai nanti bisa menggunakan Goal Line Technology. Rasanya lebih pas sebuah rencana dilakukan secara bertahap, jangan melompati demi memuaskan suara tertentu.


Baca Juga :
- PSM Minta Laga Diundur, Arema Terancam Menganggur Lebih Lama
- Soal Arti Nama sang Anak, Kapten Kedua Persebaya Ini Menggeleng

Ini main bola beneran lho, bukan video game....

Bagus Priambodo (Pengamat Sepak Bola Nasional)

BERITA TERKAIT

Penulis
Total Komentar 0
Tulis Komentar +
ARTIKEL SEBELUMNYA